Seiring
dengan diberlakukannya kurikulum 2013 di tahun 2014. Pramuka ditetapkan sebagai
extra kurikuler wajib yang harus dilaksanakan di setiap jenjang sekolah SD/MI,
SMP/MTs, SMA/MA/SMK. Orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya
kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan,
disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Kurikulum 2013
disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan
dengan kata lain untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pertimbangan
yang mendasar adalah akibat fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Salah
satunya fenomena negatif yang mengemuka, seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi,
plagiarisme, kecurangan ujian nasional dan gejolak masyarakat.
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Januari 2014
Minggu, 11 Maret 2012
Apa Yang Dibanggakan Dari Pramuka...????
Tag :
ABDIMAS HUMAS
ARTIKEL
“Bangga menjadi Pramuka Indonesia.”
Kalimat tersebut dijadikan semboyan dalam pencitraan Gerakan Pramuka yang dimotori oleh salah satu Kwartir Daerah di Indonesia. Kita sebagai anggota suatu organisasi
memang harus bangga terhadap apa yang sedang kita tekuni, kita jalani, dan kita jadikan wadah pengembangan diri. Memilih Gerakan Pramuka sebagai organisasi yang menjembatani antara masa anak-anak kita, menyeberangi masa remaja kita, dan meniti menuju masa dewasa tentu saja adalah salah satu pilihan terbaik yang dimiliki para pemuda, terutama pemuda Indonesia.
sumber : http://pramukajateng.or.id/index.php/79-pramuka-jateng-content/seputar-kwarda-jateng/130-apa-yang-dibanggakan-dari-pramuka
Kalimat tersebut dijadikan semboyan dalam pencitraan Gerakan Pramuka yang dimotori oleh salah satu Kwartir Daerah di Indonesia. Kita sebagai anggota suatu organisasi
memang harus bangga terhadap apa yang sedang kita tekuni, kita jalani, dan kita jadikan wadah pengembangan diri. Memilih Gerakan Pramuka sebagai organisasi yang menjembatani antara masa anak-anak kita, menyeberangi masa remaja kita, dan meniti menuju masa dewasa tentu saja adalah salah satu pilihan terbaik yang dimiliki para pemuda, terutama pemuda Indonesia.
Para insan pramuka tentunya masih
mengingat betul alasan kedatangan Raja Swiss ke Indonesia khususnya ke
Kwarda DIY dan Kwartir Cabang Kabupaten Magelang awal tahun 2012
kemarin. Menurut pandangan beliau Gerakan Pramuka adalah organisasi yang
pantas mendapatkan julukan “Mesangger Of Peace”. Pembawa misi
perdamaian. Kenapa? Karena kita tahu sendiri bahwa Gerakan Pramuka
selain berasaskan Pancasila yang menyemaikan nilai-nilai luhur bangsa,
organisasi yang dipimpin oleh Mantan Menteri Kesehatan ini juga tidak
pernah memberikan celah-celah tumbuhnya bibit politik di dalamnya.
Pramuka netral dalam artian yang sesungguhnya. Merupakan hal yang amat
menyalahi asas dan prinsip yang sudah dipahami bersama jika pada unsur
kegiatannya, pada visi pelaksanaannya, dan pada orientasi pembinaannya
dibumbui “politik praktis”.
Selain karena Gerakan Pramuka merupakan
organisasi nonpolitik, organisasi ini juga memiliki struktur yang
mengakar dengan Pemerintah dari jajaran nasional sampai pedesaan
sehingga menyentuh hampir semua lapisan masyarakat. Mulai dari jabatan
Ketua Majelis Pembimbing Nasional yang dirangkap oleh Presiden sampai
dengan Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan yang pada umumnya dirangkap
oleh Kepala Sekolah. Pramuka menjadi konsumsi yang terus dibutuhkan oleh
para anak-anak, pemuda, maupun para pakar pendidikan atau kepemudaan di
daerahnya. Mengapa? Karena meskipun sistem strutural Pramuka
terintegrasi dengan Pemerintahan, namun pelaksanaan kegiatannya memiliki
metode-metode yang jauh lebih fleksibel seperti Pendidikan di luar
ruangan, belajar sambil melakukan, pengamalan sistem among, dan
sebagainya. Betul sekali. Pramuka sangat portable, seperti
filosofi pohon kelapa yang dapat tumbuh dimana-mana, Pramuka sangat
sesuai apabila diterapkan sebagai pendidikan di lapangan, namun juga
tidak kalah proporsional jika harus dituntut formal apabila
bersinggungan dengan pejabat-pejabat sepaket dengan protokolernya yang
begitu disiplin menginginkan performa terbaik.
Dan yang patut kalian banggakan lagi
adalah Gerakan Pramuka merupakan satu-satunya organisasi yang diberi
amanah untuk mengenakan bendera kebangsaan di seragam hariannya dalam
bentuk setangan leher dan pita leher merah putih. Kita bandingkan saja
dengan para tentara dan polisi dimana mereka merupakan tonggak
pertahanan dan ketertiban bangsa Indonesia. Mereka bekerja siang dan
malam, mengamankan, menertibkan, mempertahankan, berjuang, bahkan tak
sedikit yang mengorbankan banyak hal termasuk harta, benda, waktu sampai
nyawa demi negara. Sudah selayaknya kita bangga mengenakan seragam
pramuka dengan berkalung setangan leher, karena orang-orang yang
berjuang demi negara (baca: polisi dan tentara) saja tidak mendapat
kehormatan untuk mengenakan merah putih di dadanya. Tapi kita, sebagai
anggota gerakan pramuka kadang malah menganggap kain merah dan putih itu
mengganggu atau bahkan membuat kita tidak nyaman beraktifitas apabila
terus mengenakannya. Sekali lagi, seharusnya kita bangga diberi
kesempatan untuk terus dan tetap menjaga simbol kemerdekaan bangsa kita
yakni merah putih. Bahkan aturan untuk mengenakannya di leher menyimpan
filosofi yang sangat mendalam yakni diharapkan dengan adanya merah putih
yang ‘mengikat’ leher kita, kita memiliki kendali dalam berperilaku
agar selalu dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita.
Merah putih di leher kita juga merupakan satu pesan dari para pendiri
Gerakan Pramuka bahwa “anggota Gerakan Pramuka merupakan lapis kedua
dari pertahanan bangsa, setelah Tentara Nasional Indonesia.” Luar biasa!
Sekarang tanyakan pada diri kita, sudahkah kita menghargai setangan
leher dan pita leher sebagai amanah estafet pertahanan bangsa?
Pertahanan yang tidak hanya dinilai dari fisik saja, tapi juga
pertahanan dalam hal sosial, budaya, pendidikan, dan masih banyak lagi.
Gerakan Pramuka memang bukan segalanya
tapi segalanya ada di Gerakan Pramuka. Pernyataan itu sangat tepat
ketika kita mulai merambah ke dunia ke-Sakaan. Satuan Karya merupakan
wadah pengembangan bakat dan minat anggota Gerakan Pramuka pada suatu
bidang tertentu. Kenapa semuanya ada di Pramuka? Karena hampir semua
aspek yang dinilai kontributif untuk bangsa terintegrasi dalam satuan
karya. Bagi anggota Pramuka yang menyukai dunia militer, ada Saka
Wirakartika yang siap membagi ilmu survival, navigasi darat,
mountaineering dan berbagai keterampilan lain. Bagi yang tertarik dengan
aeromodelling ada Saka Dirgantara yang menampung para calon perancang
pesawat masa depan. Bagi yang tertarik dengan kelautan, Saka Bahari siap
menjadi wadah pengembangan diri. Ada Saka Bhayangkara yang aksinya
sudah tidak diragukan lagi untuk mengamankan dan menertibkan masyarakat
di bawah bimbingan Kepolisian Negara Indonesia. Saka Bakti Husada bagi
para anggota Gerakan Pramuka yang berminat dengan kesehatan. Saka
Wanabakti, menampung anggota Gerakan Pramuka yang memiliki passion
di bidang kehutanan,dan masih banyak Saka lain yang tentunya mampu
mewadahi aktifitas kita, mampu mengembangkan kemampuan kita, dan yang
terpenting adalah mampu memfasilitasi peran serta kita dalam membangun
masyarakat sejak dini. Nah, satuan karya apa yang kalian minati?
Apabila dijelaskan satu persatu, banyak
sekali hal-hal yang membuat kita semakin bangga menjadi anggota Gerakan
Pramuka. Namun tentunya masing-masing pribadi memiliki kebanggaan
tersendiri dengan organisasi berjenjang ini. Mungkin hal terakhir yang
bisa kita bahas mengenai kebanggaan sebagai anggota Gerakan Pramuka
adalah mulai tersadarnya Pimpinan Bangsa kita (baca:Pak Presiden)
mengenai seberapa pentingnya Gerakan Pramuka sebagai benteng
perlindungan terhadap imbas negatif globalisasi sosial, budaya, dan
teknologi yang menimpa remaja saat ini. Dengan ‘menitipkan’ amanahnya
kepada Menteri Pemuda dan Olahraga dan Menteri Pendidikan, setidaknya
SBY mengawali Revitalisasi Gerakan Pramuka dengan rapi semenjak tahun
2006 sampai pada disahkannya UU No. 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan
Pramuka.
Gerakan Pramuka sudah mendapatkan
perhatian dari seantero negeri. Mari buktikan bahwa kita sebagai anggota
Gerakan Pramuka mampu menjadi Messanger Of Peace sekaligus
kontributor Pembangunan Moral bangsa. Buktikan bahwa Gerakan Pramuka
adalah solusi bagi dekadensi moral yang sedang menjadi fenomena gunung
es di Indonesia. Buktikan pula dengan sederhana, bahwa anggota Gerakan
Pramuka mampu menjadi teladan di lingkungan sekitar dalam kehidupan
sehari-hari. Buktikan bahwa kalian bangga menjadi Pramuka!
Oleh: Hafizhah Lukitasarisumber : http://pramukajateng.or.id/index.php/79-pramuka-jateng-content/seputar-kwarda-jateng/130-apa-yang-dibanggakan-dari-pramuka
Senin, 13 Februari 2012
Fenomena Pramuka Wajib di Gudep
Tag :
ARTIKEL
Apabila kita pernah bersekolah di
sekolah negeri, tentu kita tidak akan asing lagi dengan istilah “Pramuka
Wajib”. Pramuka wajib di sini maksudnya adalah program yang mewajibkan
para siswa terutama di tingkat sekolah menengah untuk mengikuti kegiatan
pramuka meskipun mereka tidak memilihnya menjadi salah satu
ekstrakulikuler yang diminati.
Jumat, 10 Februari 2012
Artikel : Gerakan Pramuka Rawan Degradasi
Tag :
ABDIMAS HUMAS
ARTIKEL
Pada peringatan hari Pramuka ke 50 yang
lalu , Gerakan Pramuka telah menyelenggarakan Pengibaran bendera Merah
putih terbesar dengan moment Dive Pramuka Emas di pantai Pasir Putih
Situbondo, demikian pula dilaksanakan kegiatan estafet tunas kelapa dari
penjuru tanah air, yang terakhir pengibaran bendera Merah Putih di
pulau sebatik yang dilakukan Pramuka Saka Bahari. Masih
banyak event lainnya yang pokok utamanya adalah menanamkan kesadaran
berbangsa, belanegara dan kecintaan pada tanah air di negara ini.
Kegiatan besar semacam itu bukan sekedar
simbol, namun memiliki arti besar bagi gerakan pramuka dalam upaya
membangun karakter bangsa ini melalui generasi muda yang tergabung dalam
Gerakan Pramuka.
Namun di lain sisi dan lebih ke dalam
lagi, menurut pengamatan penulis ternyata masih perlu pembinaan bela
negara dan kerakter bagi anggota pramuka yang lebih spesifik dan
bersifat tehnis. Dimulai metode pendidikan kepramukaan di gugusdepan,
yang pada saat ini tampak adanya pergeseran dan perubahan cara pandang
antara memaknai kecintaan pada tanah air dan semangat dalam motivasi
kegiatan pramuka. Hal ini terbukti dengan pemakaian setangan leher atau
pita leher merah putih yang dibarengi dengan (menyerupai) tanda lainnya
diluar tanda resmi yang telah ditentukan oleh Gerakan Pramuka ( Kwarnas,
red ). Biasanya orang menyebut tanda ini dengan nama “ slayer “ , yakni
sepotong kain yang menyerupai setangan leher dengan aneka warna dan
corak baik dengan ukuran yang sama atau lebih kecil, dikenakan melingkar
pada leher si pemakai.
Penggunaan semacam slayer ini sedemikian subur
di kalangan anggota pramuka. Orang-orang yang awam pramuka akan bertanya
apakah ada perubahan dengan seragam pramuka saat ini ? atau apakah ada
“hasduk baru” ? Lalu apakah penggunaan slayer ini merupakan bagian dari
gejala di era keterbukaan, atau kebebasan, ataukah semata-mata hanya
untuk cara menumbuhkan semangat bagi anggota pramuka.
Pada saat ini, penggunaan slayer tidak
hanya pada forum non formal saja, para peserta didik bahkan
menggunakannya pada kegiatan formal juga. Hal ini menjadi sangat
memprihatinkan lagi bila dipakai dan ditempatkan di atas setangan/ pita
leher menutupi bendera Merah Putih yang sebenarnya dikemas, diformat dan
dibentuk menjadi setangan / pita leher.
Pola penerapan pendidikan dengan model
menggunakan slayer bagi peserta didik yang seperti ini, akan
berpengaruh pada pola image bahwa pengguna dimungkinkan akan lebih
bangga dan nyaman menggunakan sejenis slayer dibanding setangan/ pita
leher yang semestinya. Perubahan perilaku ini akan terjadi apalagi jika
Merah Putih diletakkan di bawah dan ditutup dengan kain lainnya. Kalau
sudah demikian maka nilai Satya dan Darma Pramuka bisa juga menjadi
tertutup dan luntur, merah putih di dada bukan lagi kebanggaan. Tentu
saja hal tersebut bertentangan dengan tujuan gerakan pramuka. Bahkan
pernah ada pula kegiatan kursus pembina malah yang digunakan bukan
setangan/ pita leher sebenarnya.
Kenapa bukan satu saja, Merah dan Putih ?
Pengertian penggunaan setangan/ pita Leher.
Setangan / pita leher yang memiliki
warna bendera Indonesia, merah dan putih merupakan tanda umun gerakan
pramuka yang dikenakan pada pakaian seragam Pramuka di bawah leher baju
(kraag), dilipat sedemikian rupa (putra) sehingga warna merah dan putih
masih tampak dengan jelas sedangkan putri dibuat simpul mati, dengan
bagian yang merah di sebelah kanan, dan bagian putih di sebelah kiri.
Sejarah menunjukkan bahwa dengan
terbitnya Keppres No. 238 tahun 1961, yakni dengan tujuan pokok
menyatukan seluruh pandu di Indonesia yang beraneka latar belakang,
menjadi Gerakan Pramuka dengan satu tujuan dan selanjutnya oleh para
pendahulu telah menindaklanjutinya dengan peraturan pemakaian salah satu
tanda umum serupa bendera Merah Putih yang dipergunakan sebagai
setangan / pita leher menjadi bagian tanda pemersatu, yang akan tampak
pada setiap dada anggota pramuka.
Perlunya Pemahaman Setangan/ Pita Leher.
Seperti yang ditulis di atas bahwa
setangan/ pita leher merupakan Bendera Merah putih yang dikemas
sedemikian rupa dan menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anggota
pramuka. Kita juga akan mengalami kegundahan dan perasaan yang sama,
manakala pada latihan pramuka, banyak peserta didik tidak menggunakan
setangan/ pita leher. Semestinya tata cara dan etika pemakaian setangan/
pita leher seharusnya diterapkan pada setiap peserta didik sejak awal,
agar Merah Putih ( bendera ) yang melingkar dileher itu selalu dijaga
dan dihargai sebagaimana menghargai dirinya sendiri saat menggunakannya.
Seharusnya tidak ada bentuk lain yang
menyerupai setangan/ pita leher selain merah dan putih yang merupakan
janji yang selalu mendampingi di setiap kegiatan pramuka. Kita juga
tidak bisa serta merta beralasan demi kreatifitas, atau menjadikan
sebagai sekedar tanda peserta kegiatan, apalagi hal tersebut tidak
tercantum dalam petunjuk penyelenggaraan dalam tanda umum gerakan
pramuka.
Apakah tidak sebaiknya kita dapat
mencontoh para pimpinan Gerakan Pramuka, seperti Kak Dede Yusuf (Kwarda
Jabar) yang selalu menggunakan merah putih di dadanya meski tidak
berseragam pramuka, demikian pula Kak Budi Prayitno (Kwarda Jateng) yang
tetap memegang aturan normatif dalam pemakaian seragam pramuka. Kedua
Pemimpin ini bisa dijadikan tauladan dalam menjaga semangat bela negara
dan beretika saat sang merah putih menyertainya.
Akibat dan solusi.
Kalo sudah menjadi kebiasaan, pasti ada
yang pro maupun kotra, tentu kita tidak ingin terjadinya pengaruh yang
mengakibatkan perubahan perilaku yang akhirnya dapat keluar dari maksud
dan tujuan gerakan pramuka itu sendiri. Adanya aneka warna dan bentuk
slayer yang dibuat, bukan menjadi solusi pemersatu, tapi malah
sebaliknya mereka bisa saja, saling berlomba untuk “jor-joran”,
lenyapnya persaudaraan lalu yang muncul adalah persaingan, semangat
merah putih pun hilang. Pemakaian slayer yang asal-asalan mengakibatkan
penggunaan seragam pramuka yang makin tidak tertib. Peserta didik
makin lebih senang menggunakan slayer daripada setangan/pita leher.
Selanjutnya beberapa hal yang merupakan bagian dari solusi :
- Diberikannya kesempatan pengunaan sejenis slayer, namun dengan aturan yang konkrit, jelas dan ketat.
- Sebaliknya adanya penegasan terhadap
larangan penggunaan tanda-tanda selain yang tercantum dalam aturan
normatif di Gerakan Pramuka.
- Sosialisasi penggunaan seragam yang baik dan benar.
- Penanaman karakter bagi pramuka terutama di bidang bela negara lebih ditingkatkan.
- Tumbuhkan nilai-nilai semangat
perjuangan para pahlawan, mempertahankan bendera merah putih dan agar
tetap berkibar di bumi pertiwi ini.
- Perlunya pengetahuan pemahaman tentang adanya petunjuk penyelenggaraan untuk dipatuhi dan dilaksanakan.
Tentu saja masih banyak solusi lainnya
yang lebih baik. Sedangkan yang memiliki kewenangan dan kebijakkan untuk
melakukan itu hanyalah pihak Kwartir.
Dalam meningkatkan animo dan semangat
berpramuka masih ada upaya lain yang dapat dilakukan dengan cara yang
lebih baik tapi benar. Namun yang harus kita ingat bahwa ibarat membuat
sebuah bangunan tidak terus saja meningkat ke atas saja, tetapi juga
perlu dilihat pondasi di bawahnya apakah ada korosi atau degradasi yang
sewaktu-waktu bikin bangunan itu mudah roboh.
Wallahualam. Salam Pramuka
Oleh : Gunawan Sr.
Sumber : http://pramukajateng.or.id/
Langganan:
Postingan (Atom)


