**SUKSESKAN HARI PRAMUKA KE 57 TINGKAT KWARDA JAWA TENGAH DI BUPER MARTOLOYO, SUNIARSIH BOJONG 21 SEPTEMBER 2018** PERANSAKA VII KWARDA JATENG 16-21 SEPTEMBER 2018 DI BUPER SUNIARSIH** ESTAFET TUNAS KELAPA KE 34** Pramuka Perekat NKRI**8
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2014

Pramuka Ekstrakurikuler Wajib 2014



Seiring dengan diberlakukannya kurikulum 2013 di tahun 2014. Pramuka ditetapkan sebagai extra kurikuler wajib yang harus dilaksanakan di setiap jenjang sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK. Orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan dengan kata lain untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pertimbangan yang mendasar adalah akibat fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Salah satunya fenomena negatif yang mengemuka, seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan ujian nasional dan gejolak masyarakat.

Minggu, 11 Maret 2012

Apa Yang Dibanggakan Dari Pramuka...????

“Bangga menjadi Pramuka Indonesia.”
Kalimat tersebut dijadikan semboyan dalam pencitraan Gerakan Pramuka yang dimotori oleh salah satu Kwartir Daerah di Indonesia. Kita sebagai anggota suatu organisasi
memang harus bangga terhadap apa yang sedang kita tekuni, kita jalani, dan kita jadikan wadah pengembangan diri. Memilih Gerakan Pramuka sebagai organisasi yang menjembatani antara masa anak-anak kita, menyeberangi masa remaja kita, dan meniti menuju masa dewasa tentu saja adalah salah satu pilihan terbaik yang dimiliki para pemuda, terutama pemuda Indonesia.
Para insan pramuka tentunya masih mengingat betul alasan kedatangan Raja Swiss ke Indonesia khususnya ke Kwarda DIY dan Kwartir Cabang Kabupaten Magelang awal tahun 2012 kemarin. Menurut pandangan beliau Gerakan Pramuka adalah organisasi yang pantas mendapatkan julukan “Mesangger Of Peace”. Pembawa misi perdamaian. Kenapa? Karena kita tahu sendiri bahwa Gerakan Pramuka selain berasaskan Pancasila yang menyemaikan nilai-nilai luhur bangsa, organisasi yang dipimpin oleh Mantan Menteri Kesehatan ini juga tidak pernah memberikan celah-celah tumbuhnya bibit politik di dalamnya. Pramuka netral dalam artian yang sesungguhnya. Merupakan hal yang amat menyalahi asas dan prinsip yang sudah dipahami bersama jika pada unsur kegiatannya, pada visi pelaksanaannya, dan pada orientasi pembinaannya dibumbui “politik praktis”.
Selain karena Gerakan Pramuka merupakan organisasi nonpolitik, organisasi ini juga memiliki struktur yang mengakar dengan Pemerintah dari jajaran nasional sampai pedesaan sehingga menyentuh hampir semua lapisan masyarakat. Mulai dari jabatan Ketua Majelis Pembimbing Nasional yang dirangkap oleh Presiden sampai dengan Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan yang pada umumnya dirangkap oleh Kepala Sekolah. Pramuka menjadi konsumsi yang terus dibutuhkan oleh para anak-anak, pemuda, maupun para pakar pendidikan atau kepemudaan di daerahnya. Mengapa? Karena meskipun sistem strutural Pramuka terintegrasi dengan Pemerintahan, namun pelaksanaan kegiatannya memiliki metode-metode yang jauh lebih fleksibel seperti Pendidikan di luar ruangan, belajar sambil melakukan, pengamalan sistem among, dan sebagainya. Betul sekali. Pramuka sangat portable, seperti filosofi pohon kelapa yang dapat tumbuh dimana-mana, Pramuka sangat sesuai apabila diterapkan sebagai pendidikan di lapangan, namun juga tidak kalah proporsional jika harus dituntut formal apabila bersinggungan dengan pejabat-pejabat sepaket dengan protokolernya yang begitu disiplin menginginkan performa terbaik.
Dan yang patut kalian banggakan lagi adalah Gerakan Pramuka merupakan satu-satunya organisasi yang diberi amanah untuk mengenakan bendera kebangsaan di seragam hariannya dalam bentuk setangan leher dan pita leher merah putih. Kita bandingkan saja dengan para tentara dan polisi dimana mereka merupakan tonggak pertahanan dan ketertiban bangsa Indonesia. Mereka bekerja siang dan malam, mengamankan, menertibkan, mempertahankan, berjuang, bahkan tak sedikit yang mengorbankan banyak hal termasuk harta, benda, waktu sampai nyawa demi negara. Sudah selayaknya kita bangga mengenakan seragam pramuka dengan berkalung setangan leher, karena orang-orang yang berjuang demi negara (baca: polisi dan tentara) saja tidak mendapat kehormatan untuk mengenakan merah putih di dadanya. Tapi kita, sebagai anggota gerakan pramuka kadang malah menganggap kain merah dan putih itu mengganggu atau bahkan membuat kita tidak nyaman beraktifitas apabila terus mengenakannya. Sekali lagi, seharusnya kita bangga diberi kesempatan untuk terus dan tetap menjaga simbol kemerdekaan bangsa kita yakni merah putih. Bahkan aturan untuk mengenakannya di leher menyimpan filosofi yang sangat mendalam yakni diharapkan dengan adanya merah putih yang ‘mengikat’ leher kita, kita memiliki kendali dalam berperilaku agar selalu dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita. Merah putih di leher kita juga merupakan satu pesan dari para pendiri Gerakan Pramuka bahwa “anggota Gerakan Pramuka merupakan lapis kedua dari pertahanan bangsa, setelah Tentara Nasional Indonesia.” Luar biasa! Sekarang tanyakan pada diri kita, sudahkah kita menghargai setangan leher dan pita leher sebagai amanah estafet pertahanan bangsa? Pertahanan yang tidak hanya dinilai dari fisik saja, tapi juga pertahanan dalam hal sosial, budaya, pendidikan, dan masih banyak lagi.
Gerakan Pramuka memang bukan segalanya tapi segalanya ada di Gerakan Pramuka. Pernyataan itu sangat tepat ketika kita mulai merambah ke dunia ke-Sakaan. Satuan Karya merupakan wadah pengembangan bakat dan minat anggota Gerakan Pramuka pada suatu bidang tertentu. Kenapa semuanya ada di Pramuka? Karena hampir semua aspek yang dinilai kontributif untuk bangsa terintegrasi dalam satuan karya. Bagi anggota Pramuka yang menyukai dunia militer, ada Saka Wirakartika yang siap membagi ilmu survival, navigasi darat, mountaineering dan berbagai keterampilan lain. Bagi yang tertarik dengan aeromodelling ada Saka Dirgantara yang menampung para calon perancang pesawat masa depan. Bagi yang tertarik dengan kelautan, Saka Bahari siap menjadi wadah pengembangan diri. Ada Saka Bhayangkara yang aksinya sudah tidak diragukan lagi untuk mengamankan dan menertibkan masyarakat di bawah bimbingan Kepolisian Negara Indonesia. Saka Bakti Husada bagi para anggota Gerakan Pramuka yang berminat dengan kesehatan. Saka Wanabakti, menampung anggota Gerakan Pramuka yang memiliki passion di bidang kehutanan,dan masih banyak Saka lain yang tentunya mampu mewadahi aktifitas kita, mampu mengembangkan kemampuan kita, dan yang terpenting adalah mampu memfasilitasi peran serta kita dalam membangun masyarakat sejak dini. Nah, satuan karya apa yang kalian minati?
Apabila dijelaskan satu persatu, banyak sekali hal-hal yang membuat kita semakin bangga menjadi anggota Gerakan Pramuka. Namun tentunya masing-masing pribadi memiliki kebanggaan tersendiri dengan organisasi berjenjang ini. Mungkin hal terakhir yang bisa kita bahas mengenai kebanggaan sebagai anggota Gerakan Pramuka adalah mulai tersadarnya Pimpinan Bangsa kita (baca:Pak Presiden) mengenai seberapa pentingnya Gerakan Pramuka sebagai benteng perlindungan terhadap imbas negatif globalisasi sosial, budaya, dan teknologi yang menimpa remaja saat ini. Dengan ‘menitipkan’ amanahnya kepada Menteri Pemuda dan Olahraga dan Menteri Pendidikan, setidaknya SBY mengawali Revitalisasi Gerakan Pramuka dengan rapi semenjak tahun 2006 sampai pada disahkannya UU No. 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka.
Gerakan Pramuka sudah mendapatkan perhatian dari seantero negeri. Mari buktikan bahwa kita sebagai anggota Gerakan Pramuka mampu menjadi Messanger Of Peace  sekaligus kontributor Pembangunan Moral bangsa. Buktikan bahwa Gerakan Pramuka adalah solusi bagi dekadensi moral yang sedang menjadi fenomena gunung es di Indonesia. Buktikan pula dengan sederhana, bahwa anggota Gerakan Pramuka mampu menjadi teladan di lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari. Buktikan bahwa kalian bangga menjadi Pramuka!
Oleh: Hafizhah Lukitasari

sumber : http://pramukajateng.or.id/index.php/79-pramuka-jateng-content/seputar-kwarda-jateng/130-apa-yang-dibanggakan-dari-pramuka

Senin, 13 Februari 2012

Fenomena Pramuka Wajib di Gudep

Apabila kita pernah bersekolah di sekolah negeri, tentu kita tidak akan asing lagi dengan istilah “Pramuka Wajib”. Pramuka wajib di sini maksudnya adalah program yang mewajibkan para siswa terutama di tingkat sekolah menengah untuk mengikuti kegiatan pramuka meskipun mereka tidak memilihnya menjadi salah satu ekstrakulikuler yang diminati.

Jumat, 10 Februari 2012

Artikel : Gerakan Pramuka Rawan Degradasi

Pada peringatan hari Pramuka ke 50 yang lalu , Gerakan Pramuka telah menyelenggarakan Pengibaran bendera Merah putih terbesar dengan moment Dive Pramuka Emas di pantai Pasir Putih Situbondo, demikian pula dilaksanakan kegiatan estafet tunas kelapa dari penjuru tanah air, yang terakhir pengibaran bendera Merah Putih di pulau sebatik yang dilakukan Pramuka Saka Bahari. Masih banyak event lainnya yang pokok utamanya adalah menanamkan kesadaran berbangsa, belanegara dan kecintaan pada tanah air di negara ini.

Kegiatan besar semacam itu bukan sekedar simbol, namun memiliki arti besar bagi gerakan pramuka dalam upaya membangun karakter bangsa ini melalui generasi muda yang tergabung dalam Gerakan Pramuka.

Namun di lain sisi dan lebih ke dalam lagi, menurut pengamatan penulis ternyata masih perlu pembinaan bela negara dan kerakter bagi anggota pramuka yang lebih spesifik dan bersifat tehnis. Dimulai metode pendidikan kepramukaan di gugusdepan, yang pada saat ini tampak adanya pergeseran dan perubahan cara pandang antara memaknai kecintaan pada tanah air dan semangat dalam motivasi kegiatan pramuka. Hal ini terbukti dengan pemakaian setangan leher atau pita leher merah putih yang dibarengi dengan (menyerupai) tanda lainnya diluar tanda resmi yang telah ditentukan oleh Gerakan Pramuka ( Kwarnas, red ). Biasanya orang menyebut tanda ini dengan nama “ slayer “ , yakni sepotong kain yang menyerupai setangan leher dengan aneka warna dan corak baik dengan ukuran yang sama atau lebih kecil, dikenakan melingkar pada leher si pemakai. 

Penggunaan semacam slayer ini sedemikian subur di kalangan anggota pramuka. Orang-orang yang awam pramuka akan bertanya apakah ada perubahan dengan seragam pramuka saat ini ? atau apakah ada “hasduk baru” ? Lalu apakah penggunaan slayer ini merupakan bagian dari gejala di era keterbukaan, atau kebebasan, ataukah semata-mata hanya untuk cara menumbuhkan semangat bagi anggota pramuka.

Pada saat ini, penggunaan slayer tidak hanya pada forum non formal saja, para peserta didik bahkan menggunakannya pada kegiatan formal juga. Hal ini menjadi sangat memprihatinkan lagi bila dipakai dan ditempatkan di atas setangan/ pita leher menutupi bendera Merah Putih yang sebenarnya dikemas, diformat dan dibentuk menjadi setangan / pita leher.

Pola penerapan pendidikan dengan model menggunakan slayer bagi peserta didik yang seperti ini,  akan berpengaruh pada pola image bahwa pengguna dimungkinkan akan lebih bangga dan nyaman menggunakan sejenis slayer dibanding setangan/ pita leher yang semestinya. Perubahan perilaku ini akan terjadi  apalagi jika Merah Putih diletakkan di bawah dan ditutup dengan kain lainnya. Kalau sudah demikian maka nilai Satya dan Darma Pramuka bisa juga menjadi tertutup dan luntur, merah putih di dada bukan lagi kebanggaan. Tentu saja hal tersebut bertentangan dengan tujuan gerakan pramuka. Bahkan pernah ada pula kegiatan kursus pembina malah yang digunakan bukan setangan/ pita leher sebenarnya.
Kenapa bukan satu saja, Merah dan Putih ?

Pengertian penggunaan setangan/ pita Leher.
Setangan / pita leher yang memiliki warna bendera Indonesia, merah dan putih merupakan tanda umun gerakan pramuka yang dikenakan pada pakaian seragam Pramuka di bawah leher baju (kraag), dilipat sedemikian rupa (putra) sehingga warna merah dan putih masih tampak dengan jelas sedangkan putri dibuat simpul mati, dengan bagian yang merah di sebelah kanan, dan bagian putih di sebelah kiri.

Sejarah menunjukkan bahwa dengan terbitnya Keppres No. 238 tahun 1961, yakni dengan tujuan pokok menyatukan seluruh pandu di Indonesia yang beraneka latar belakang, menjadi Gerakan Pramuka dengan satu tujuan dan selanjutnya oleh para pendahulu telah menindaklanjutinya dengan peraturan pemakaian salah satu tanda umum serupa bendera Merah Putih yang dipergunakan sebagai setangan / pita leher menjadi bagian tanda pemersatu, yang akan tampak pada setiap dada anggota pramuka.

Perlunya Pemahaman Setangan/ Pita Leher.
Seperti yang ditulis di atas bahwa setangan/ pita leher merupakan Bendera Merah putih yang dikemas sedemikian rupa dan menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anggota pramuka. Kita juga akan mengalami kegundahan dan perasaan yang sama, manakala pada latihan pramuka, banyak peserta didik tidak  menggunakan setangan/ pita leher. Semestinya tata cara dan etika pemakaian setangan/ pita leher seharusnya diterapkan pada setiap peserta didik sejak awal, agar Merah Putih ( bendera ) yang melingkar dileher itu selalu dijaga dan dihargai sebagaimana menghargai dirinya sendiri saat menggunakannya.

Seharusnya tidak ada bentuk lain yang menyerupai setangan/ pita leher selain merah dan putih yang merupakan janji yang selalu mendampingi di setiap kegiatan pramuka. Kita juga tidak bisa serta merta beralasan demi kreatifitas, atau menjadikan sebagai sekedar tanda peserta kegiatan, apalagi hal tersebut tidak tercantum dalam petunjuk penyelenggaraan dalam tanda umum gerakan pramuka.
Apakah tidak sebaiknya kita dapat mencontoh para pimpinan Gerakan Pramuka, seperti Kak Dede Yusuf (Kwarda Jabar) yang selalu menggunakan merah putih di dadanya meski tidak berseragam pramuka, demikian pula Kak Budi Prayitno (Kwarda Jateng) yang tetap memegang aturan normatif dalam pemakaian seragam pramuka. Kedua Pemimpin ini bisa dijadikan tauladan dalam menjaga semangat bela negara dan beretika saat sang merah putih menyertainya.

Akibat dan solusi.
Kalo sudah menjadi kebiasaan,  pasti ada yang pro maupun kotra, tentu kita tidak ingin terjadinya pengaruh yang mengakibatkan perubahan perilaku yang akhirnya dapat keluar dari maksud dan tujuan gerakan pramuka itu sendiri.  Adanya aneka warna dan bentuk slayer yang dibuat, bukan menjadi solusi pemersatu, tapi malah sebaliknya mereka bisa saja, saling berlomba untuk “jor-joran”,  lenyapnya persaudaraan lalu yang muncul adalah persaingan, semangat merah putih pun hilang.  Pemakaian slayer yang asal-asalan mengakibatkan penggunaan seragam pramuka yang makin tidak tertib.  Peserta didik makin lebih senang menggunakan slayer daripada setangan/pita leher.

Selanjutnya beberapa hal yang merupakan bagian dari solusi :
- Diberikannya kesempatan pengunaan sejenis slayer, namun dengan aturan yang konkrit, jelas dan ketat.
- Sebaliknya adanya penegasan terhadap larangan penggunaan tanda-tanda selain yang tercantum dalam aturan normatif di Gerakan Pramuka.
- Sosialisasi penggunaan seragam yang baik dan benar.
- Penanaman karakter bagi pramuka terutama di bidang bela negara lebih ditingkatkan.
- Tumbuhkan  nilai-nilai semangat perjuangan para pahlawan, mempertahankan bendera merah putih dan agar tetap berkibar di bumi pertiwi ini.
- Perlunya pengetahuan pemahaman tentang adanya petunjuk penyelenggaraan untuk dipatuhi dan dilaksanakan.

Tentu saja masih banyak solusi lainnya yang lebih baik. Sedangkan yang memiliki kewenangan dan kebijakkan untuk melakukan itu hanyalah pihak Kwartir.
Dalam meningkatkan animo dan semangat berpramuka masih ada upaya lain yang dapat dilakukan dengan cara yang lebih baik tapi benar. Namun yang harus kita ingat bahwa ibarat membuat sebuah bangunan tidak terus saja meningkat ke atas saja, tetapi juga perlu dilihat pondasi di bawahnya apakah ada korosi atau degradasi yang sewaktu-waktu bikin bangunan itu mudah roboh.
Wallahualam. Salam Pramuka

Oleh : Gunawan Sr.